Festival Batam Bonapasogit 2026 Dibuka, Yayasan Yonkenedia Ajak Masyarakat Batak di Batam Daftar dan Lestarikan Budaya Festival Batam Bonapasogit 2026 Dibuka, Yayasan Yonkenedia Ajak Masyarakat Batak di Batam Daftar dan Lestarikan Budaya

Festival Batam Bonapasogit 2026 Dibuka, Yayasan Yonkenedia Ajak Masyarakat Batak di Batam Daftar dan Lestarikan Budaya


Etahnews.id | BATAM
- Yayasan Yonkenedia mengajak masyarakat Batak di Kota Batam untuk turut ambil bagian dalam Festival Batam Bonapasogit 2026, sebuah kegiatan sosial yang mengangkat seni, adat, tradisi dan budaya Batak di tanah perantauan.

Festival ini dirancang menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat Batak dari berbagai marga, komunitas, gereja maupun kelompok sosial untuk memperkenalkan dan menumbuhkan kembali kecintaan terhadap budaya Batak, khususnya di kalangan generasi muda.

Sejumlah kegiatan dan perlombaan budaya akan digelar, antara lain Lomba Tor-Tor Batak Dewasa, Lomba Tor-Tor Batak Anak, Lomba Parsinabung, Lomba Meminta Gondang, Fashion Show Busana Adat Batak serta berbagai kegiatan budaya lainnya.

Masyarakat Batak di Batam yang ingin berpartisipasi dihimbau segera mengikuti proses pendaftaran dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjadi bagian dari kegiatan pelestarian budaya Batak di Kota Batam.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Yonkenedia, Johannes Kennedy Aritonang, mengatakan gagasan menghadirkan wadah pelestarian budaya Batak di tanah perantauan telah muncul sejak dirinya masih muda.

Menurut Johannes, perkembangan masyarakat Batak di Batam dalam kurun waktu sekitar 10 hingga 15 tahun terakhir menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Jika dahulu masyarakat Batak harus kembali ke kampung halaman untuk melaksanakan pesta adat, termasuk perkawinan, kini berbagai kegiatan adat telah dapat dilaksanakan di Batam.

“Dulu kalau mau menikah harus pulang kampung karena di Batam belum tersedia sarana, baik tempat penyelenggaraan pesta maupun raja adat atau parhata. Tetapi sekitar 10 sampai 15 tahun terakhir sudah berubah. Acara adat, mulai dari yang kecil sampai besar, sudah banyak dilaksanakan di Batam,” ujar Johannes, Kamis (1/10/2026).

Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi salah satu alasan Festival Batam Bonapasogit 2026 digelar. Batam dinilai telah berkembang menjadi salah satu pusat komunitas masyarakat Batak di luar kawasan asalnya.

Ia menyebut istilah “Bonapasogit” dalam konteks perkembangan komunitas Batak di perantauan. Menurutnya, selain Tapanuli Raya sebagai kampung halaman, Jakarta telah berkembang sebagai salah satu pusat komunitas Batak yang besar.

Batam juga menunjukkan perkembangan serupa dengan semakin banyaknya masyarakat Batak dan semakin seringnya kegiatan adat dilaksanakan.

Johannes mengatakan, pelaksanaan adat di daerah perkotaan juga mengalami penyesuaian dengan perkembangan zaman. Menurutnya, modernisasi dapat dilakukan sepanjang tidak menghilangkan makna dan filosofi adat Batak.

“Inilah yang kita sasar dalam kegiatan festival, seperti lomba tortor Batak, lomba parsinabung, meminta gondang dan lomba busana adat Batak,” katanya.

Jangan Sampai Modernisasi Menghilangkan Jati Diri

Johannes juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda Batak di tengah perkembangan teknologi, termasuk kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), teknologi digital dan berbagai platform online.

Menurutnya, kemajuan teknologi memberikan banyak peluang, namun di sisi lain perlu diimbangi dengan penguatan identitas budaya.

“Jangan sampai kearifan lokal ditutupi oleh modernisasi. Bagaimana kita justru mengindahkan dan memelihara kultur atau budaya sehingga menjadi kekuatan sosial maupun ekonomi,” tuturnya.

Ia mengatakan, tidak sedikit anak-anak Batak yang lahir dan besar di Batam sudah semakin jauh dari bahasa dan tradisi Batak. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian Yayasan Yonkenedia melalui penyelenggaraan festival.

“Meskipun anak-anak itu lahir di sini dan mungkin sudah tidak bisa lagi berbahasa Batak, inilah yang kita gugah melalui kegiatan ini,” tambah Johannes.

Karena itu, berbagai kategori perlombaan sengaja dibuat agar keterlibatan masyarakat semakin luas, termasuk generasi muda, keluarga, komunitas marga dan gereja.

“Dengan banyaknya jenis lomba yang diperlombakan, kita berharap semakin banyak yang terlibat, baik dari marga-marga maupun gereja,” jelasnya.

Kegiatan Sosial, Bukan Berorientasi Keuntungan

Ketua Panitia Festival Batam Bonapasogit 2026, Mangihut Rajagukguk, mengatakan festival tersebut merupakan kegiatan sosial yang dibangun untuk mempertemukan masyarakat Batak dari berbagai latar belakang.

Menurutnya, Yayasan Yonkenedia berupaya menyediakan ruang kolaborasi bagi tokoh-tokoh marga, lembaga adat, gereja dan komunitas masyarakat Batak di Batam.

“Ini kegiatan sosial. Kita tidak ingin mengambil keuntungan. Kita ingin memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, berkreasi dan memperkenalkan budaya Batak,” ujarnya.

Mangihut mengajak masyarakat Batak di Batam untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mendaftarkan diri maupun kelompoknya dalam berbagai perlombaan yang telah disiapkan.

Menurutnya, semakin banyak peserta yang terlibat akan semakin kuat pula semangat kebersamaan dan pelestarian budaya yang ingin dibangun melalui festival tersebut.

Budaya Batak Diharapkan Tetap Hidup di Tanah Rantau

Festival Batam Bonapasogit 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau perlombaan semata. Yayasan Yonkenedia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pemantik lahirnya agenda kebudayaan Batak yang berkelanjutan di Kota Batam.

Johannes mengatakan, festival tersebut terbuka sebagai ruang partisipasi masyarakat. Jika kegiatan serupa nantinya dapat dilanjutkan oleh komunitas maupun pihak lain, menurutnya hal tersebut merupakan perkembangan positif bagi pelestarian budaya Batak.

“Tujuan kegiatan ini kalau bisa menjadi pemicu. Kalau ada yang lain melanjutkan atau menjadikannya agenda rutin, itu juga bagus,” katanya.

Ia berharap festival dapat menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antargenerasi sekaligus memperkenalkan kembali seni dan tradisi Batak kepada anak-anak muda yang lahir di tanah rantau.

“Dampak yang kita harapkan adalah satu kegiatan bisa menjadi lebih meriah dan menjadi pemantik bagi orang lain untuk ikut melestarikan budaya,” pungkasnya.

Himbauan Pendaftaran


Yayasan Yonkenedia mengimbau masyarakat Batak di Kota Batam, keluarga, komunitas marga, gereja serta generasi muda yang berminat mengikuti Festival Batam Bonapasogit 2026 untuk segera melakukan pendaftaran sesuai kategori kegiatan yang tersedia.

Kesempatan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk berkompetisi secara sehat, memperkenalkan seni dan budaya Batak, mempererat persaudaraan serta menanamkan nilai budaya kepada generasi penerus.

Festival Batam Bonapasogit 2026 pada akhirnya diharapkan menjadi salah satu langkah bersama untuk menjaga agar budaya Batak tetap hidup, berkembang dan memiliki ruang di tengah kehidupan masyarakat Batam yang semakin modern.

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti perlombaan dan kegiatan Festival Batam Bonapasogit 2026, pendaftaran dapat dilakukan melalui panitia Yayasan Yonkenedia sesuai informasi dan ketentuan yang telah ditetapkan. (Mat)
Lebih baru Lebih lama