![]() |
| Kondisi infrastruktur jalan menuju Dusun Batu Holing, Desa Togur, Kecamatan Dolok Silou, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, kembali menjadi keluhan masyarakat. |
Etahnews.id | SIMALUNGUN - Kondisi infrastruktur jalan menuju Dusun Batu Holing, Desa Togur, Kecamatan Dolok Silou, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, kembali menjadi keluhan masyarakat.
Ruas jalan yang menghubungkan Desa Togur menuju Dusun Batu Holing sepanjang kurang lebih 4 kilometer itu dilaporkan masih mengalami kerusakan cukup parah. Sejumlah bagian jalan bahkan belum mendapatkan pengerasan yang memadai, sehingga kendaraan kesulitan melintas, terutama ketika hujan turun.
Bagi sekitar 42 kepala keluarga di Dusun Batu Holing, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan kenyamanan berkendara.
Jalan yang rusak berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi, pendidikan dan mobilitas masyarakat yang sebagian besar menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian.
Hasil bumi yang seharusnya dapat dengan mudah dibawa keluar untuk dipasarkan justru harus menghadapi akses jalan yang sulit dilalui.
Warga setempat, Amansius Saragih, mengatakan kerusakan jalan tersebut bukan persoalan baru. Kondisinya telah berlangsung cukup lama dan hingga kini belum tertangani secara menyeluruh.
“Keadaan jalan rusak ini sudah cukup lama. Masyarakat Dusun Batu Holing sekitar 42 KK sebagian besar hidup dari sektor pertanian. Kondisi jalan membuat kami kesulitan memasarkan hasil bumi, termasuk untuk aktivitas sehari-hari seperti ke sekolah maupun keluar daerah,” ujar Amansius. Rabu (07/10/2026).
Menurutnya, sebagian ruas memang telah diperbaiki menggunakan cor semen melalui dana desa dan swadaya masyarakat.
Namun, perbaikan tersebut baru menyentuh sebagian titik dan belum mampu menjawab persoalan akses secara keseluruhan.
“Memang sebagian jalan sudah ada yang diperbaiki menggunakan cor semen dari dana desa maupun swadaya masyarakat, tetapi belum optimal untuk memperlancar jalur transportasi,” katanya.
Musim Hujan, Ancaman Longsor Mengintai
Persoalan menjadi semakin berat ketika memasuki musim penghujan. Selain badan jalan yang licin dan sulit dilalui, sejumlah kawasan di sepanjang jalur tersebut disebut rawan longsor.
Kondisi ini membuat akses masyarakat semakin rentan terganggu, khususnya bagi warga yang harus menggunakan kendaraan untuk membawa hasil pertanian maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.
Dusun Batu Holing merupakan salah satu dari empat dusun yang berada di Desa Togur. Tiga dusun lainnya yakni Dusun Togur, Dusun Gambiri dan Dusun Urung Dolok.
Jarak dan kondisi medan juga menjadi tantangan tersendiri. Perjalanan menuju Dusun Batu Holing dari Kantor Bupati Simalungun di Pematang Raya diperkirakan membutuhkan waktu sekitar empat jam.
Dalam perjalanan, masyarakat juga harus melewati Jembatan Bah Bane, yang sebelumnya mengalami kerusakan dan kemudian diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat.
“Kalau menuju Batu Holing dari Togur, kita harus melewati Jembatan Bah Bane. Jembatan itu dulunya juga rusak, namun sudah diperbaiki masyarakat secara swadaya. Tetapi masih perlu peningkatan dan perhatian dari Pemkab Simalungun,” ujar Amansius.
Dana Desa Sudah Digelontorkan, Tetapi Belum Cukup
Pemerintah Desa Togur disebut telah berupaya menangani persoalan tersebut. Sebagian dana desa telah dialokasikan untuk memperbaiki jalan menuju Batu Holing sejak 2023.
Namun, keterbatasan anggaran membuat pemerintah desa tidak mampu melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap ruas jalan yang rusak.
“Anggaran dana desa untuk memperbaiki sebagian jalan itu sudah dikerjakan mulai tahun 2023. Namun belum optimal karena anggaran terbatas,” katanya.
Kondisi ini membuat masyarakat berharap pemerintah kabupaten tidak hanya mengandalkan kemampuan pemerintah desa dan swadaya masyarakat dalam menangani persoalan infrastruktur tersebut.
Menurut warga, akses jalan menuju Batu Holing merupakan jalur penting bagi masyarakat karena berkaitan langsung dengan roda perekonomian dan kebutuhan dasar warga.
Mereka berharap Pemkab Simalungun dapat melihat secara langsung kondisi jalan tersebut dan mempertimbangkan penanganan yang lebih menyeluruh, termasuk peningkatan badan jalan serta penguatan infrastruktur pada titik-titik yang rawan longsor.
“Kami dari pihak pemerintah desa berharap perhatian dari Pemkab Simalungun,” ujar Amansius.
Bagi masyarakat Batu Holing, jalan bukan sekadar urusan aspal, batu maupun semen. Jalan merupakan akses utama untuk mengeluarkan hasil pertanian, mengakses pendidikan, mendapatkan pelayanan dan menghubungkan masyarakat dengan wilayah lainnya.
Karena itu, warga berharap persoalan jalan menuju Batu Holing tidak berhenti sebagai keluhan yang berulang setiap tahun, tetapi mendapat tindak lanjut nyata melalui program pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.
Hingga berita ini, awak media belum mendapatkan tanggapan dari pemerintah kabupaten Simalungun atas keluhan masyarakat ini. (AS)

