![]() |
| Panitia Festival Batam Bonapasogit 2026 |
Etahnews.id | BATAM - Prestasi membanggakan ditorehkan dua peserta bermarga Situmorang, yakni Anggiat Situmorang dan Makmur Situmorang, dalam ajang lomba Parhata Adat Batak pada Festival Batam Bonapasogit 2026. Keduanya berhasil melaju ke babak final setelah menyisihkan 15 peserta lainnya dari berbagai marga Batak.
Keberhasilan tersebut bukan sekadar menunjukkan kemampuan berbicara di hadapan juri dan penonton. Lebih dari itu, Anggiat dan Makmur memperlihatkan bahwa adat dan budaya Batak dapat dikemas melalui penyampaian yang kreatif, komunikatif, serta mudah dipahami oleh berbagai kalangan, khususnya generasi muda.
Dalam penampilannya, keduanya memperlihatkan gaya komunikasi yang singkat, padat, dan tepat sasaran. Kemampuan mengolah kata, didukung ekspresi wajah, mimik, serta penekanan intonasi bahasa yang kuat, membuat pesan-pesan adat yang disampaikan terasa lebih hidup dan menarik.
Salah satu hal yang mencuri perhatian adalah kreativitas Anggiat Situmorang dalam menggunakan properti sebagai bagian dari penampilannya. Properti tersebut bukan sekadar pelengkap, melainkan menjadi media peragaan untuk memberikan gambaran nyata mengenai makna dan praktik adat Batak.
Pendekatan ini dinilai sebagai terobosan menarik dalam memperkenalkan adat istiadat Batak kepada masyarakat. Sebab, nilai-nilai budaya tidak hanya disampaikan melalui penjelasan lisan, tetapi juga diperagakan sehingga lebih mudah dipahami dan diingat oleh penonton.
“Kita lihat gebrakan baru di babak final tanggal 28 November nanti. Akan ada hal baru yang dipertontonkan lagi,” ujar salah seorang pemerhati adat Batak, Sabtu (31/10/2026), di Gedung Tiarma Convention Hall Panbil, Batam.
Menurutnya, ajang seperti ini menjadi ruang positif untuk mengembangkan kemampuan generasi muda dalam memahami sekaligus melestarikan adat dan budaya Batak. Kreativitas dalam penyampaian menjadi nilai tambah, selama tetap berpedoman pada nilai-nilai luhur dan tatanan adat yang berlaku.
Perjalanan Anggiat dan Makmur menuju babak final juga menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan cara yang monoton. Tradisi dapat diperkenalkan melalui pendekatan yang inovatif, menarik, dan mengikuti perkembangan zaman tanpa menghilangkan esensi serta kehormatan adat itu sendiri.
Sebab, menjadi seorang Parhata bukan hanya tentang kepiawaian merangkai kata atau keberanian berbicara di depan umum. Seorang Parhata harus memahami makna setiap ungkapan adat, menjaga kesantunan, menghormati tatanan Dalihan Na Tolu, serta mampu menyampaikan pesan adat secara tepat dan bijaksana.
Babak final yang dijadwalkan berlangsung pada 28 November 2026 mendatang pun menjadi momentum yang dinantikan. Penampilan Anggiat dan Makmur diharapkan dapat menghadirkan inovasi baru sekaligus memberikan inspirasi bagi generasi muda Batak untuk semakin mencintai dan mempelajari budayanya.
Pada akhirnya, adat Batak bukan sekadar warisan masa lalu yang hanya dikenang atau diucapkan dalam upacara adat. Adat merupakan identitas, pedoman kehidupan, serta kekayaan budaya yang harus terus dipahami, dihidupi, dijaga, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena adat tidak cukup hanya dikenal dan diucapkan, tetapi harus dipahami, dijalankan, serta dilestarikan. (Tim).

