Tortor Batak Menggema di Batam, 10 Tim Terbaik Akan Berlaga di Babak Final Tortor Batak Menggema di Batam, 10 Tim Terbaik Akan Berlaga di Babak Final

Tortor Batak Menggema di Batam, 10 Tim Terbaik Akan Berlaga di Babak Final



Etahnews.id | BATAM -
Ribuan penonton memadati Gedung Tiarma Convention Hall, Batam, Sabtu (31/10/2026), untuk menyaksikan kemeriahan babak audisi Festival Batam Bonapasogit 2026. Sebanyak 32 tim tortor Batak tampil menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam ajang seni budaya yang disponsori Yayasan Yonkenedia Panbil tersebut.

Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal kegiatan. Sorak sorai dan tepuk tangan penonton mengiringi setiap penampilan peserta yang berlomba menampilkan gerakan tortor terbaik, kekompakan tim, keserasian busana adat, serta penghayatan terhadap nilai-nilai budaya Batak.

Festival ini bukan sekadar kompetisi untuk memperebutkan gelar juara. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang pelestarian warisan leluhur sekaligus sarana memperkenalkan kebudayaan Batak kepada generasi muda, khususnya masyarakat Batak yang tinggal di perantauan.

Dari 32 tim yang mengikuti babak penyisihan, dewan juri akan menyeleksi 10 tim terbaik untuk melaju ke babak final yang dijadwalkan berlangsung pada 28 November 2026 mendatang.

Ketua Panitia Festival Batam Bonapasogit 2026, Mangihut Rajagukguk, mengatakan seluruh peserta telah memberikan penampilan yang sangat baik. Menurutnya, proses penentuan 10 tim terbaik bukan perkara mudah karena masing-masing kelompok memiliki keunggulan tersendiri.

“Dewan juri saat ini menyaring seluruh penampilan 32 tim di babak penyisihan tadi untuk memilih 10 tim terbaik ke final 28 November 2026. Semua tim tortor tadi semuanya bagus-bagus,” ujar Mangihut Rajagukguk.

Ia berharap festival tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi seni, tetapi juga menjadi wadah mempererat kebersamaan masyarakat Batak serta menjaga identitas dan tradisi leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

 

 

Tortor Bukan Sekadar Tarian, Ada Filosofi Kehidupan di Dalamnya

Tortor merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Batak yang memiliki makna mendalam. Dalam kehidupan adat, tortor bukan hanya rangkaian gerakan tubuh mengikuti irama musik, melainkan juga menjadi media untuk menyampaikan penghormatan, sukacita, persaudaraan, dan kebersamaan.

Setiap gerakan memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai adat dan tata kehidupan masyarakat Batak. Karena itu, tortor tidak semestinya hanya dipandang dari keindahan gerakan dan keserasian penampilan, tetapi juga dari pemahaman terhadap makna budaya yang terkandung di dalamnya.

Nilai tersebut berkaitan erat dengan falsafah Dalihan Na Tolu, yang menjadi landasan hubungan sosial masyarakat Batak. Falsafah ini mengajarkan pentingnya menghormati hula-hula, menghargai dongan tubu, serta menyayangi boru.

Nilai-nilai luhur tersebut menjadi kekayaan budaya yang harus diwariskan kepada generasi penerus. Jangan sampai generasi muda hanya mampu menampilkan tortor di atas panggung, tetapi tidak lagi memahami filosofi dan nilai adat yang diwariskan para leluhur.


Festival Budaya Jadi Perekat Persaudaraan di Perantauan

Apresiasi terhadap Festival Batam Bonapasogit 2026 juga disampaikan salah satu peserta, yakni tim tortor Simanjuntak BBI Wilayah 9.

Mereka menilai kegiatan seperti ini sangat penting untuk terus dilaksanakan karena mampu mempertemukan masyarakat Batak dari berbagai latar belakang dalam suasana kebersamaan.

Sihar Simanjuntak berharap Festival Batam Bonapasogit dapat menjadi agenda tahunan sehingga semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang terlibat dalam pelestarian budaya Batak.

“Kami berharap kegiatan ini dibuat menjadi agenda tahunan untuk menjadi pengingat bagi orang perantau akan tortor Batak,” harap Sihar Simanjuntak.

Harapan tersebut menjadi pesan penting bahwa kehidupan di perantauan tidak seharusnya membuat masyarakat melupakan akar budaya dan identitas leluhurnya.

Justru melalui kegiatan budaya seperti ini, hubungan persaudaraan dapat terus diperkuat. Anak-anak dan generasi muda yang lahir serta tumbuh di Batam juga memiliki kesempatan untuk mengenal, mempelajari, dan mencintai tradisi leluhur mereka.

 

 

Regenerasi Menjadi Kunci Pelestarian Budaya

Pelaksanaan Festival Batam Bonapasogit 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Tanggung jawab menjaga warisan budaya tidak cukup hanya dibebankan kepada tokoh adat atau generasi tua. Generasi muda harus diberikan ruang untuk belajar, berlatih, memahami, dan mengekspresikan kebudayaannya.

Melalui kompetisi tortor, generasi penerus dapat belajar membangun kekompakan, disiplin, kreativitas, serta memahami nilai-nilai adat melalui pengalaman langsung.

Festival budaya juga menjadi sarana memperkuat solidaritas antarkomunitas dan membangun rasa memiliki terhadap warisan budaya bersama.

Dengan demikian, Festival Batam Bonapasogit bukan hanya panggung pertunjukan seni, melainkan juga ruang pendidikan budaya dan perekat persaudaraan masyarakat Batak di tanah perantauan.

Kini, perhatian peserta dan ribuan penonton tertuju pada hasil penilaian dewan juri yang akan menentukan 10 tim terbaik untuk tampil pada babak final, 28 November 2026 mendatang.

Lebih dari sekadar mencari pemenang, festival ini membawa pesan bahwa kebudayaan tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu. Budaya harus terus hidup melalui praktik, pembelajaran, dan keterlibatan generasi penerus.

Sebab, menjaga tortor Batak bukan hanya mempertahankan gerakan tarian, melainkan juga merawat nilai persaudaraan, penghormatan, identitas, dan kebersamaan yang diwariskan para leluhur.

Dari Batam untuk Bonapasogit, tortor tetap hidup, budaya tetap lestari, dan persaudaraan tetap terjaga. (Tim)


Lebih baru Lebih lama