Menelisik Fakta Pembangunan di Pulau Kasu: Antara Tudingan, Verifikasi Lapangan, dan Suara Masyarakat Menelisik Fakta Pembangunan di Pulau Kasu: Antara Tudingan, Verifikasi Lapangan, dan Suara Masyarakat

Menelisik Fakta Pembangunan di Pulau Kasu: Antara Tudingan, Verifikasi Lapangan, dan Suara Masyarakat

Tim Investigasi DPD PJS Kepri Temukan Sejumlah Proyek Fisik yang Dipersoalkan Berdiri dan Berjalan di Lokasi


Etahnews.id | BATAM -
Tidak ada teriakan kemarahan. Tidak pula penolakan dari masyarakat. Yang terdengar justru sapaan hangat dan ajakan sederhana: "Mari kami tunjukkan sendiri."

Kalimat itu menyambut kedatangan tim investigasi DPD Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kepulauan Riau yang tiba di Pulau Kasu sekitar pukul 11.20 WIB, Rabu (17/6/2026). Warga menginginkan fakta di lapangan berbicara lebih lantang dibanding berbagai narasi yang beredar tanpa verifikasi langsung.

"Daripada hanya mendengar cerita orang, lebih baik lihat langsung," ujar seorang warga kepada tim jurnalis.

Ajakan tersebut menjadi awal penelusuran lapangan terhadap sejumlah proyek pembangunan yang belakangan menjadi perbincangan publik dan menuai kritik. Fokus investigasi diarahkan pada pembangunan jalan lingkar desa, proyek batu miring pesisir, serta keberadaan fasilitas keagamaan yang sempat disebut dalam berbagai pemberitaan dan opini publik.


Meninjau Jalan Lingkar Desa yang Masih Berproses

Lokasi pertama yang dikunjungi adalah pembangunan jalan lingkar desa yang menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat Pulau Kasu.

Dari hasil pengamatan lapangan, sebagian ruas jalan telah selesai dibangun dan dapat dimanfaatkan warga. Sementara sejumlah titik lainnya masih berada pada tahap pematangan lahan sebelum memasuki proses pembangunan berikutnya.

Jalan yang dirancang mengelilingi kawasan permukiman tersebut memiliki panjang sekitar 2,5 kilometer dan dikerjakan secara bertahap melalui alokasi anggaran Tahun 2025 dan 2026.

Ketua RT 01 Pulau Kasu, Suhardi, mengatakan pembangunan jalan tersebut merupakan kebutuhan mendesak karena menjadi jalur alternatif yang lebih efisien bagi masyarakat, khususnya pelajar.

"Jalan ini sering digunakan anak-anak sekolah karena jaraknya lebih dekat. Kalau lewat jalur ini, waktu tempuh bisa lebih singkat. Kami berharap pembangunan dapat segera dilanjutkan hingga tuntas," katanya.

Di beberapa titik, tim juga menemukan kondisi jalan tanah merah yang menjadi licin saat hujan turun.

"Saat musim hujan, warga cukup kesulitan melintas. Karena itu kami berharap akses ini segera diselesaikan agar masyarakat memiliki sarana transportasi yang lebih layak," tambah Suhardi.
Proyek Batu Miring yang Dipersoalkan Ternyata Berada di Lokasi

Penelusuran kemudian berlanjut ke proyek batu miring pesisir yang sebelumnya ramai disebut sebagai "proyek siluman" dalam sejumlah narasi yang beredar.

Tudingan tersebut muncul karena adanya klaim bahwa proyek dimaksud tidak ditemukan di lapangan. Namun hasil verifikasi langsung menunjukkan kondisi berbeda.

Di lokasi, bangunan batu miring tampak berdiri memanjang mengikuti garis pantai bagian barat Pulau Kasu. Struktur fisik proyek terlihat jelas dan dapat diidentifikasi secara kasat mata. Sejumlah material konstruksi juga masih berada di area pekerjaan, mengindikasikan pembangunan belum sepenuhnya rampung.

Tim bahkan mendapati aktivitas lanjutan di beberapa titik pekerjaan yang masih dalam proses penyelesaian.

Temuan tersebut memunculkan pertanyaan mendasar mengenai validitas informasi yang menyebut proyek tersebut tidak ada.

Ketua Forum RT/RW Pulau Kasu, Dani, mengaku kecewa terhadap tudingan yang menurutnya disampaikan tanpa pengecekan langsung ke lapangan.

"Kalau disebut proyek siluman, kami sebagai masyarakat tentu merasa tersinggung. Bapak-bapak bisa melihat sendiri, bangunannya ada, materialnya ada, bahkan pekerjaan masih berjalan. Kami heran mengapa kesimpulan itu muncul tanpa terlebih dahulu melihat kondisi sebenarnya," ujarnya.

Menurut Dani, masyarakat tidak menolak kritik. Namun kritik yang disampaikan kepada publik semestinya didasarkan pada data dan hasil verifikasi yang memadai.

"Silakan mengkritik karena itu bagian dari demokrasi. Tetapi pastikan terlebih dahulu kebenarannya. Datang ke lokasi, lihat langsung, lalu sampaikan kepada masyarakat secara utuh. Jangan sampai masyarakat menjadi korban informasi yang tidak lengkap," katanya.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan batu miring tersebut memiliki fungsi penting untuk memperkuat kawasan pesisir dari ancaman abrasi sekaligus mendukung pembangunan jalan lingkar desa yang telah lama diharapkan warga.

"Di balik pembangunan batu miring ini ada harapan besar masyarakat terhadap terwujudnya jalan lingkar desa yang layak. Itu impian kami sejak lama," tutur Dani.


Masjid dan Pondok Pesantren Berdiri dan Berfungsi

Investigasi lapangan kemudian dilanjutkan menuju Masjid Nur Iman yang juga sempat dikaitkan dalam polemik pembangunan di Pulau Kasu.

Hasil pemantauan menunjukkan bangunan masjid berdiri dengan baik dan aktif digunakan masyarakat untuk kegiatan ibadah sehari-hari. Di area depan masjid, pekerjaan batu miring juga masih berlangsung dengan sejumlah pekerja terlihat melakukan aktivitas konstruksi.

Tak jauh dari lokasi masjid berdiri Pondok Pesantren Nurul Iman yang menjadi pusat pendidikan keagamaan bagi anak-anak dan remaja di Pulau Kasu.

Imam Masjid Nur Iman, Azhar, mengaku prihatin ketika mendengar adanya narasi yang seolah menggambarkan pembangunan di wilayahnya tidak nyata.

"Kami sedih mendengar pernyataan seperti itu. Mungkin yang berbicara belum pernah datang langsung ke sini. Kami sedang berjuang membangun kampung ini dengan berbagai keterbatasan yang ada," ujarnya.

Menurut Azhar, keberadaan Pondok Pesantren Nurul Iman menjadi harapan baru bagi masyarakat dalam membentuk generasi muda yang memiliki pemahaman keagamaan yang baik.

"Kami berharap anak-anak Pulau Kasu mendapatkan pendidikan agama yang memadai melalui pesantren ini. Jangan sampai semangat masyarakat membangun desa menjadi terganggu oleh informasi yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya," katanya.


Pemerintah Kelurahan: Infrastruktur Sangat Dibutuhkan Warga

Lurah Kasu, Budi, yang ditemui di kawasan dermaga, menegaskan bahwa seluruh pembangunan yang sedang berlangsung merupakan bagian dari kebutuhan dasar masyarakat setempat.

"Manfaatnya sangat dirasakan warga. Batu miring berfungsi melindungi kawasan pesisir dari abrasi, sementara jalan lingkar desa menjadi akses penting yang menunjang aktivitas masyarakat sehari-hari," ujarnya.

Menurut Budi, karakteristik Pulau Kasu sebagai wilayah kepulauan menjadikan pembangunan infrastruktur memiliki nilai strategis yang jauh lebih besar dibanding sekadar sarana transportasi.

"Jalan bukan hanya soal mobilitas. Infrastruktur ini berkaitan dengan akses pendidikan, ekonomi, pelayanan sosial, hingga peningkatan kualitas hidup masyarakat. Karena itu kami berharap pembangunan dapat terus berlanjut hingga selesai," jelasnya.

Ia juga mengapresiasi keberadaan Masjid Nur Iman dan Pondok Pesantren Nurul Iman yang dinilai berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia.

"Kami sangat terbantu dengan hadirnya pondok pesantren untuk mendidik generasi muda dalam nilai-nilai iman dan takwa. Ini merupakan investasi jangka panjang bagi masyarakat Pulau Kasu," katanya.
 

Verifikasi Lapangan sebagai Fondasi Jurnalisme

Ketua DPD PJS Kepulauan Riau, Gusmanedy Sibagariang, menegaskan bahwa kunjungan tim ke Pulau Kasu dilakukan dalam kerangka kerja jurnalistik yang berorientasi pada verifikasi fakta.

"Kami datang bukan untuk membela pihak tertentu ataupun menghakimi pihak lain. Tugas kami adalah memeriksa fakta. Apa yang kami lihat, itulah yang kami catat. Apa yang disampaikan masyarakat, itulah yang kami dengarkan. Prinsip utama jurnalisme adalah verifikasi," ujarnya.

Menurut Gusmanedy, kritik merupakan bagian penting dari kontrol sosial dalam sistem demokrasi. Namun kritik yang sehat harus dibangun di atas data, dokumen, dan pengecekan lapangan agar tidak menimbulkan disinformasi maupun kesalahpahaman di tengah masyarakat.
 

Kesimpulan Investigasi

Hasil penelusuran lapangan menunjukkan bahwa sejumlah objek pembangunan yang menjadi polemik memang berada di lokasi dan dapat diverifikasi secara fisik. Beberapa proyek telah selesai sebagian, sementara lainnya masih dalam tahap penyelesaian.

Temuan ini tidak serta-merta menutup ruang kritik terhadap pelaksanaan pembangunan. Namun investigasi lapangan menegaskan pentingnya verifikasi langsung sebelum menarik kesimpulan yang dipublikasikan kepada masyarakat.

Di tengah derasnya arus informasi digital, fakta tidak dapat dibangun dari asumsi atau persepsi semata. Kebenaran harus diuji melalui data, dokumen, observasi lapangan, serta keterangan dari berbagai pihak yang berkepentingan.

Karena pada akhirnya, esensi jurnalisme bukanlah membenarkan atau menyalahkan, melainkan menghadirkan fakta yang telah diverifikasi agar publik memperoleh informasi yang utuh dan berimbang. (Tim).

Catatan Redaksi:
Laporan ini merupakan hasil penelusuran lapangan DPD PJS Kepulauan Riau pada Rabu, 17 Juni 2026. Media tetap membuka ruang hak jawab kepada pihak-pihak yang sebelumnya menyampaikan kritik maupun tudingan terkait pembangunan di Pulau Kasu, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Lebih baru Lebih lama